Kau yang sedang merencanakan Kematian
Ya itu kau
Setiap detik kau mencabuti akar bunga itu
Bunga yang kau rawat dalam kemarau panjang
Lalu kau gali pusaramu
Kau melangkah kebelakang seakan tak kuketahui
Sedang lupa, Ya kau sedang lupa
Aku adalah hidupmu
Tanpa sadar kau merencanakan pembunuhanku
Memasuki pusara yang kau gali
Sedang aku menunggu di liang lahat
Tidakkah kau ingin mencumbuku sebelum kematian?
Atau sekedar beradu kasih di ujung pusara
Atau kau sedang ingin kita bercumbu dalam satu pusara??
Ahhhh
Sungguh kau sedang merencanakan kematian
KITA
Selasa, 15 September 2015
Sabtu, 12 September 2015
Selamat Wisuda Kakak Yozh
Selamat pagi.....
Selamat Wisuda…
Tahun ini menjadi tahun yang
lebih banyak mendatangkan kabar gembira buat kita berdua. Tahun dimana aku dan
kamu lulus pada hari yang sama, tahun dimana aku dan kamu diwisuda dan tahun
dimana aku dan kamu akan membuktikan bahwa perasaan yang tumbuh diantara kita
adalah tulus yang selalu kita doakan agar direstui oleh Tuhan. Semoga semuanya
dilancarkan. Amin.
Kekasihku, Andi Yos yang selalu
menambahkan nama belakang dirinya dengan Mappangara.
Sesungguhnya aku sedang merasa
cemas, karena tak bisa melewati hari wisudamu bersamaku, aku yang tidak ada
disampingmu. Maafkan aku, tapi bukankah ini kesepakatan kita kan?? Kita sedang
merencanakan tarian besar dalam hidup kita yang akan kita rayakan bulan depan dan
kita telah bersepakat agar aku berfokus pada pesta itu. Aku menyetujuinya.
Mulai sekarang memang kita harus lebih banyak berhemat dan memikirkan banyak
hal, serta segala kemungkinan yang akan kita hadapi berdua. Ya tentu saja
berdua.
Mungkin saat ini kamu sedang
melewati prosesi sidang terbuka, sedang menyanyikan hymne dan mars
universitasmu, sedang mengucapkan janji alumni dan menuju prosesi bersalaman
dengar rektor dan dekan di universitasmu,, Selamat. Mungkin kamu tidak menjadi
wisudawan terbaik namun aku tahu kau selalu melakukan yang terbaik. Sebelum
wisuda kau pernah meminta maaf untuk itu, kau tak bisa menjadi wisudawan
terbaik, tapi bagiku tak menjadi masalah, kau tak berhutang kepadaku. Bagiku
kau selalu menjadi yang terbaik, walau terkadang aku tak percaya dengan
keputusanmu dan butuh waktu untuk meyakinkanku. heeeehehee
Masih ingatkah kamu?, 3 tahun
lalu saat aku marah dan mengatakan kamu seorang yang pembohong, kerena saat itu
kita telah berjanji untuk berangkat melanjutkan pendidikan bersama-sama dan
lulus bersama. Namun kau melanjutkan
pendidikan setahun lebih dulu denganku. Lalu dengan itu aku berencana tak
mengantarmu ke bandara apalagi untuk memberikan senyuman padamu sebelum kau
berangkat ke Surabaya. Walaupun kamu selalu meyakinkanku akan lulus bersama-sama
karena masa studimu yang akan berlangsung lebih lama dari biasanya, tapi aku
tetap tak percaya, kau akan lulus lebih dulu atau kau akan jatuh cinta pada
perempuan lain disana. Lalu olok-olokan teman-teman kita selalu membuatku
percaya bahwa kau akan jatuh cinta beneran.
Setahun kemudian aku menyusulmu,
walaupun tidak dalam satu kota, tetapi jarak Malang dan Surabaya menjadi lebih
dekat bagi kita. Kita belajar seperti mahasiswa kebanyakan, kita mengejar
mimpi-mimpi kita dan benar janjimu tak meleset bahkan lebih hebat dari yang
pernah kubayangkan. Tepat di tanggal 25 juni 2015 kita lulus, kita ujian di
hari yang sama, di kota yang berbeda. Dan rencana Tuhan memang selalu lebih
indah buat kita.
Aku juga pernah memimpikan saat
keluar dari ruang ujian, kau akan datang memberiku seikat bunga, dan
mengabadikannya lewat foto dengan senyum yang paling bahagia. Namun rencana
Tuhan jauh lebih indah. Ternyata doa dan mimpi kita 3 tahun yang lalu yang
sedang dikabulkan Tuhan.
Diperjalanan menuju bangku
kelulusan pun selalu kita warnai dengan banyak pertengkaran. Aku marah dan kamu
akan lebih marah, aku egois dan kamu akan jauh lebih egosi, bahkan aku pernah mengatakan
aku tidak mencintaimu lagi lalu kau terdiam dan tak acuh padaku, atau bahkan
kita pernah tak saling mengabari selama 5 bulan. Namun semua pertengkaran itu
berhasil kita lewati. Sejak awal kita telah memimpikan untuk bersama-sama, walau
perjalanan tak selalu lurus dan mulus. Selalu ada kerikil dan jalan
berkelok-kelok di perjalanan menuju tujuan kita. Tetapi tetap saja kita bisa
melewatinya dan bersama.
Terkadang ada marah diantara
kita, namun bukankah kemarahan membuat hati kita sedang berfungsi untuk
merasakan kecewa??. Setiap pertengkaran selalu memacu hati kita yang sedang
bertumbuh sampai pada titik kita akan menertawai diri kita sendiri yang sedang
marah. Entah tertawa karena kelucuan apa.
Walaupun kita tidak melewati
prosesi wisuda di tempat yang sama atau di tanggal yang sama dan ada aku dan
kamu disana, tetapi kita wisuda di bulan yang sama. Dan selalu ada kata sama
yang tersisa diantara kita.
Selamat Wisuda
Semoga kamu menjadi seorang M.Si
yang bertanggung jawab, menjadi seorang insan akademik yang bersetia dan jujur.
Semoga ini menjadi langkah awalmu membangun bangsa memberi banyak manfaat bagi
orang lain dan menjadi khalifah dibumi sesuai tugasmu sebagai manusia.
Hari ini kamu di kukuhkan
menjadi seorang yang terpelajar, maka berati kamu mengemban amanah yang semakin
besar. Tidak hanya untuk dirimu sendiri, keluargamu, namun juga bangsamu. Kamu
harus menjadi poros bagi masyarakat untuk mengembangkan keilmuan dan memajukan
peradaban bangsa kita. Aku tahu ini tugas berat, Namun bukankan kita pernah
berjanji bersama untuk mewujudkan hal itu, bersama pula dengan teman-teman
terpelajar lainnya. Semoga.
Selamat wisuda, dan aku selalu bangga kepadamu
Teruntuk Kekasih Jiwaku
Aku ingin menulis surat untukmu,, ah tidak mungkin
sebuah catatan hatiku, melalui waktu-waktu dengan mencintaimu yang kadang tak sempat
kusampaikan padamu,,, kadang kusembunyikan bahkan kadang kutulis lalu
kumusnahkan
Entah apa yang menggerakkan jari-jariku untuk
menulis catatan hatiku padamu,, tentang cintaku yang hampir kandas karena
ulahku,, bahkan dalam perjuanganku yang dipenuh resah ketika malam-malam mulai
menyapa atau gelap yang mulai menyelimuti saat jarak mulai menjadi raja diantara kita.... memisahkan kita dalam kepasrahanku
yang sesungguhnya aku ingin berontak karenanya..
Apakah karena kita telah terbiasa menjauh,..???
ataukah karena kita tak lagi saling mencintai dalam ketulusan yang mendalam???.. Ah aku rasa kita hanya saling menjauh,, karena jika kita tak saling mencintai
tidak mungkin kita berupaya mencoba memulai kasih kembali dalam hati yang tidak
lagi utuh saat kita bersama dahulu...
Aku ingin mencintaimu dengan cara yang tidak
sederhana,, aku ingin mencintaimu dengan cara yang sesempurna yang aku bisa,
dan yang terbaik dalam hatiku,,, karena saat aku sadar bahwa hatiku telah jauh
melangkah,, aku akhirnya menerobos waktu, jarak dan cemohhan orang-orang untuk
menggapaimu kembali,,,
Terima kasih karena mau belajar mencintaiku lagi
Kau tahu, aku begitu kuat untuk menahan
sakit,,,apalagi jika itu bertujuan untuk membahagiakan dirimu,, bertujuan untuk
membuatmu merasa nyaman,, Jika beberapa hari ini kau merasa bahwa aku
mengganggu ketenangan jiwamu,, maka maafkanlah,, sesungguhnya aku hanya ingin
memperhatikan dan menyanyangimu lebih dalam bentuk lain
Sejak jarak menjadi raja dan waktu masih saja
berjalan lambat,,, yang terus melingkupi keresahanku,, saat malam-malam tidak
menjadi sahabat untuk membelai mata dan kepalaku untuk terlelap,, saat gelap
tidak lagi menjadi ketakutan bagi pengantar tidurku yang akan membawaku
terlelap,,, aku selalau berdoa agar tuhan tetap menjagamu,, dan terus membuka
hatimu untukkmu untuk tetap mencintaiku dan menyayangiku setulus hati seperti
dulu dan takan pernah berubah sampai aku tak lagi kuat, saat mataku mungkin
mulai rabun untuk terus memperhatikan wajahmu, saat senyumanku tak lagi indah
karena keriput dan gelambir wajah menjadi garis dan tanda bahwa aku akan
menghadap yang maha kuasa.....
Mungkin dirimu bukan seorang penikmat tulisan
konyol seperti tulisan yang kini ku kirimkan kepadamu,, mungkin tulisan ku
bukan tulisan hebat,,, ini memang bukan tulisan yang perlu dinilai,, tapi ini
tulisan yang hanya perlu kamu baca dengan hatimu yang tulus tanpa ego,, karena
ketakutanku kehilanganmu,, karena ketakutanku membuat dirimu semakin
menjauh,,,
Beberapa waktu,serasa kau ingin sendiri dan menjauh
dariku,,, Ingin menikmati kesendirian,,, maka jika itu pintamu, aku membiarkan kamu
merasakannya...aku juga ingin tahu apakah kamu merasa bahagia dengan
kesendirian itu atau kamu merasa tak lengkap tanpaku,,,
Aku mencintaimu dengan segala kekuranganmu dan
kelebihanmu,, entah sikap pemarahmu yang akhir-akhir ini muncul adalah sebuah
sikap yang selama ini tertutupi ataukah memang engkau yang telah berubah,,,
tapi yang pasti,, jika kau mencintaiku, dimana pun kau pergi kita akan tetap kembali pada tempat dimana sesungguhnya
hati ini berlabuh,,, walau cinta itu kadang membutakan tapi sesungguhnya dia
tahu dimana ia selayaknya kembali
walau tak tahu arah kasih sayang akan
menuntunnya untuk pulang....
Jumat, 11 September 2015
Aku Seorang Perempuan Yang Kalah
“Kau
adalah perempuan yang selama ini aku cari, kau satu-satunya perempuan yang
layak aku sandingkan dengan diriku, dan kujadikan istri, begitu lama aku
mencari perempuan seperti dirimu, dan mengapa baru sekarang aku menemukannya”
Aku
selalu mengingat kata itu, mungkin bukan sebuah janji kepadaku. Tapi bagiku kau
sedang menegaskan kepadaku bahwa aku perempuan terbaik dalam hidupmu dan takkan
pernah ada perempuan lain yang akan menggantikanku. Bagi aku yang sedang jatuh cinta padamu, aku
akan dengan mudah percaya. Perempuan memang selalu percaya tanpa ada
pembuktian, mereka bisa mempercayai sesuatu hanya dengan menggunkan telinganya.
Termasuk Aku.
Tak
satupun perempuan yang rela jika cintanya dibagi, termasuk aku. Jikalau harus
merelakan ragamu mungkin aku siap. Namun jika merelakan hatimu tentu saja aku
takkan pernah siap. Mungkin ada hal yang perlu perempuan pelajari di bangku
sekolah, yang selama ini tak pernah ada pada pelajaran-pelajaran formal bahkan
di jenjang doktor sekalipun. Pelajaran tentang bagaimana mengenali lelaki yang
sedang berbohong (Nanti-Lelaki terakhir yang menagis di Bumi). Mengenali
kebohongan seorang lelaki seperti kepingan
puzzle yang sulit untuk dimengerti, dan aku yakin jika dilakukan tes kecerdasan
mengenali kebohongan laki-laki maka hampir semua perempuan akan remedial
berulang kali. Apalagi jika mereka sedang jatuh cinta. Jika patah hati dengan
segala kesedihan membuat manusia sulit diatur maka jatuh cinta menjadikan
manusia tak dapat dikendalikan.
Hari
ini aku sedang berada dilembah terjal menuruni anak tangga kenangan dan mencoba
mengingat kembali semua tulisan-tulisanmu yang selalu kau hadiahkan padaku.
Bagimu itu adalah rumahku tempat aku berlindung dari segala keresahanku. Namun
bunga menjadi layu dan aku terusir dari rumahku. Tetapi kau jangan salah
sangka, aku hanya sekedar mengenang dan mengingatkanmu. Bukan untuk
menghakimimu. Bukankah hanya kenangan yang akan menjadi kawan. Bukankan setiap
kisah selalu menjadi sejarah. Hanya ada dua kemungkinan, menjadi menjadi
sejarah yang indah dan menjadi sejarah yang kelam. Namun keduanya tetaplah
sejarah yang memberikan pembelajaran bagi manusia. Termasuk kisahku denganmu.
Kenangan tentangmu bagai dua mata
pisau yang tajam keduanya mampu mengiris. Kisah indah akan menjadi kenangan
manis sambil menikmati secangkir kopi dan memandangi langit biru. Kenangan
pahit akan menjadi pembelajaran untuk menata kehidupan yang lebih baik.
Seharusnya manusia senantiasa bersyukur untuk segala perkara yang dia temui, karena
pada akhirnya semua berujung pada kebaikan. Aku tahu bahwa aku sedang menjelma
menjadi cinta yang marah dengan kekesalanku pada akhir yang bagiku menyakitkan
mungkin juga karena aku tak menerima kekalahan. Mungkin karena harapan masih
saja menggeliat dipikiranku dan perasaanku. Dan aku masih berusaha untuk
percaya pada semua kata.
Bagimu aku adalah sepenggal kisah
lalu, benarkah aku kisah yang lalu??, aku hanya bertanya benarkah seperti itu.
Kau tak pernah kusandingkan dengan kata itu, kau adalah keabadian dalam
kenanganku dan menjadi kekasih dalam kenanganku dan selalu seperti itu. Lalu
kuabadikan kau lewat pekerjaan-pekerjaan keabadian. Takkan hilang di liang lupa
dan takan tergerus oleh waktu walau tulang sudah menjadi tanah. Dia abadi dalam
tulisan. Namun mungkin kau punya pendapat yang lain dan memilih keputusan yang
untuk menyandingkanku sebagai kisah lalu. Namun harus kau tau aku tetap abadi,
dan aku jiwa yang abadi. Dan kali ini aku sedang tidak sependapat denganmu,
tapi itu keputusanmu yang harus aku hormati.
Cinta dan harapan seperti bagian kehidupan
yang tak akan habis untuk kau baca. Cinta dan harapan mampu membuat manusia
benar-benar hidup dan mampu membunuh manusia dengan seketika. Mungkin ini pula
yang terjadi padamu, cinta dan harapanmu terus saja berperang dengan sang nyata
bahwa ada kisah yang memang tak perlu mengenal tuannya.
Aku perempuan yang kalah..
Aku mengakui padamu, aku memang
kalah dengan perempuan yang memang ingin memilikimu sejak dulu, dan aku
mengakui kekalahanku karenanya. Aku kalah karena ia mampu mematahkan semua
janjimu kepadaku, janji penjagaanmu dan janji kebadian darimu. Tapi tak
perlulah aku menagihnya, hanya sekedar mengingatkanmu lalu kubiarkan kau
menghukumku pada janji yang mungkin kau kira telah kupatahahkan sejak dulu.
Aku perempuan yang kalah..
Aku kalah karena kau menginginkan
kekalahanku, saat kau benar-benar tak mampu bertahan melindungiku, katamu.
Namun biarlah kisah ini menjadi kisah perempuan yang kalah. Kalah atas
pertarungan memenangkan hatimu. Bukankah hatimu memang tidak untuk
dimenangkan??. Kau bukan perlombaan apalagi hatimu. Ia memilih dengan siapa ia
ingin membuka pintunya dan dengan siapa ia akan menyerahkan kuncinya. Walau terkadang setiap hati tak selalu
bertemu dengan tuannya. Mungkin sekedar singgah dan hanya menjadi persinggahan.
Lalu aku perempuan yang kalah dan mengakui kekalahannya.
Aku perempuan yang kalah…
Dan aku tahu kau tidak sedang
bahagia hari ini, kau sedang mencari liang lupa, berlari bersama waktu di
jalan-jalan sepi. Namun tak juga kau temukan liang lupa itu. Aku adalah
kenangan yang abadi. Bahkan ketika aku adalah perempuan yang kalah dang
mengakui kekalahannya. Mungkin ada masa kau akan menjinakkan dirimu pada
kenangan dan menjadikannya sahabat, agar kau bisa menjadi benar-benar hidup.
Dan disaat yang sama aku menjadi perempuan yang kalah dan mengakui
kekalahannya.
Aku memang selalu kalah dengannya,
sejak awal aku tahu bahwa kau adalah orang yang akan menghancurkanku lagi dan
lagi. Aku bisa mengalami kehancuran sebesar aku mencintaimu. Lalu selalu
bersedia untuk memberi pengampuan. Terima kasih kau telah mengajariku banyak
hal sebanyak kau memberikan kebahagian dan kehancuran padaku dalam waktu yang
bersamaan. Lalu maafkan aku yang mencintaimu sekaligus menyakitimu (fadh
fahdephie - Rumah tangga)
Kamis, 10 September 2015
Sebuah Sajak
Aku ingin melukiskan sesak dalam sebuah tanda
yang tak bisa kau mengerti
Mungkin sebuah di kertas kosong yang usang
Atau pada batu besar yang tak bisa kuhancurkan
Atau tembok besar yang terlalu tinggi dan tak
bisa ku lampaui,
Dan selalu menahanku saat aku mencoba berlari
kearahmu.
Teruslah menahanku, selalu dan selalu
Rabu, 09 September 2015
Kenangan TITIK
Kenangan akan menjadi abadi, dia perjalanan jiwa. Kita hanya bisa memilih untuk berdamai dengan kenangan atau berpura-pura melupakannya.
Aku
pernah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak meuliskan surat lagi untukmu “kenangan”,
aku benci dengan dirimu. Kau tahu aku lebih banyak membaca akhri-akhir ini, aku
merasa membaca bisa membuatku lari dari keinginanku untuk menulis surat
kepadamu, aku merasa buku-buku adalah tempat yang paling aman untuk bersembunyi.
Tapi membaca adalah sebuah pekerjaan bersuhu tinggi. Semakin aku membaca dan
bersembunyi maka kepalaku pun semakin panas untuk menuliskan banyak surat
untukmu, entah dari mana hubungan ini bisa terjadi tapi kata-kataku begitu
banyak untuk segera dialirkan dan ditumpkahkan pada secarik kertas kosong.
Mirip
seperti bendungan penampungan air. Semakin aku membaca maka semakin banyak air
yang ditampung, masalahnya adalah kapasitas bendungan fikiranku terbatas, jika
tetap kutampung tanpa ampun, maka air ini bisa saja menjadi air bah yang akan
merusak segala hal disekitarnya, memang pengrusakan selalu saja mengajari hati
manusia untuk memberikan pegampunan tapi tetap saja manusia bertugas untuk
menjaga kedamaian sekitarnya. Dengan alasan itu aku tahu aku sedang butuh
menulis. Bagiku menulis adalah pekerjaan yang bersuhu rendah, menulis seperti
air mengalir dan begitu dingin. Aku butuh keseimbangan dalam pikiranku, agar
kau tetap ada disana dan tetap seperti itu.
Pagi
ini aku menatap pohon kecil di dekat jendela kamarku dan mendengarkan kicau
burung pipit yang sedang berkasih sayang dengan pasangannya. Seketika itu aku
tahu bahwa aku juga membutuhkan waktu berkasih sayang denganmu,
mungkin tidak seperti burung pipit yang kulihat pagi ini, cukup dengan menulis
surat untukmu menumpahkan semua kata yang telah tertampung cukup lama di
bendungan fikiranku. Aku butuh menulis.
Ada
banyak kata yang tak sempat aku ucapkan kepadamu di akhir pertemuan kita. Aku
tahu kau telah memutuskan untuk berhenti menulis surat-surat untukku. Mungkin
kau marah denganku karena aku tak pernah lagi membalas suratmu beberapa bulan
ini. Tapi kau harus tahu, aku memilih diam bukan karena tak merindukanmu atau
tak peduli denganmu. Aku memilih diam karena aku merasa diam adalah tempat yang
paling aman untukku, setidaknya dalam diam aku bertemu dengan sepi dan
keheningan. Sepi bagiku adalah obat mujarab bagi segala kesakitan, berteman
dengan diri sendiri dan berdialog dengan hati yang sedang rapuh. Lalu
mengalirkannya dalam rinai air mata yang tak perlu kau liat dan tak berharap
engkau hapus dari pipiku.
Aku
telah berusaha mencarimu, disetiap orang yang melewati tempat pertemuan kita,
disetiap taman, disetiap bunga dan rerumputan, disetiap kumbang yang kau
kenalkan padaku dan disetiap langit yang kulalui. Tetapi tak ada jawaban dari mereka,
mereka hanya berkata tak tahu tentangmu. Aku tahu mereka mengetahuinya, aku
curiga kau memang senganja bersembunyi dan meminta mereka untuk
menyembunyikanmu dari ku dan dari pencarianku.
Seketika
aku marah, aku marah karena aku selalu berfikir bahwa kau mencintaiku,
merindukanku dan selalu ingin mendekapku. Tapi tidak, kau tak datang walaupun
telah kugedor dinding-dinding keangkuhanmu begitu keras. Hasilnya tetap saja
sama, kamu betah di ruang persembunyianmu yang mungkin sudah kau temukan
kebahagiaan disana. Aku lelah, aku memang lelah dan kuputuskan untuk pulang. Kepulanganku
begitu menyedihkan, aku yang berjalan di jalan kecil kesedihanku tanpa kamu. Di
jalan itu aku hanya mendengar suaramu yang selalu marah kepadaku ketika aku
menggenggam bola panas sendiri dan tak membaginya padamu. Tapi di jalan kecil
ini kudapati diriku menggenggam bola panas ini sendiri tanpa kamu, sedang aku
membutuhkanmu untuk menggenggam bola panasku yang lain. Dan kau tak ada.
Aku
menjelma menjadi cinta yang marah, namun kau tahu???? Hatiku tak begitu kuat
untuk menggenggam kemarahan tentangmu begitu lama. Aku mengerti perpisahan
begitu menyakitkan dan selalu menjelma menjadi sepi yang mencekam dan manusia
selalu benci dengan cekaman sang sepi. Mungkin kau juga sedang merasakan
kebencian itu juga. Sedang aku mencoba untuk melawan sepi dengan bersembunyi di
balik buku-buku itu. Tapi semakin aku melawan sepi maka semakin kuat pula sepi
itu mencekamku. Yang kutemukan hanyalah ketakutan, perlawanan yang tak mampu
membunuh musuh namun semakin membunuh tuanya sendiri.
Sesaat
aku menatap langit biru, warna biru yang selalu kau simbolkan dengan kedalaman
perasaan. Jauh dan berjarak namun tetap jelas warna yang dia miliki. Mungkin
itu simbol dari rasa yang belum kita temukan jawabannya sampai hari ini sebelum
engkau memutuskan untuk bersembunyi dan terus bersembunyi sedang kau tahu aku
sedang mencarimu disetiap sisi perjalananku. Mungkin hanya diriku, aku merasa
biru adalah kedalaman itu, mungkin itu juga yang sedang kau maksudkan kepadaku
dengan bersembunyi. Jauh dan berjarak dengan warna yang nampak jelas. Kau dan
aku yang berjarak namun jelas ada pada rasa yang sama.
Aku
tahu bahkan ketika aku sedang belajr untuk mengerti warna biru itu, walaupun
aku sedang menatap langit di jalan kecil ini, kenangan selalu lihai menari-nari
di dalam pikiranku, lalu secepat kilat mengoyak-oyak perasaan ku. Ternyata
mengerti tentang rasa tidak berarti kita mampu berdamai dengan kenangan. Kenangan
adalah sisa perjalanan jiwa yang akan abadi. Jika kau berfikir bahwa kau mampu
menguburnya bahkan melupakannya maka sama saja kau sedang menulis di dalam air.
Semakin kau menulis semakin tak tampak hasil tulisanmu. Semakin kau melawan
kenangan maka semakin ia ada dalam pikiranmu dan semakin sakit pula kau
dibuatnya.
Aku
mengutip kata Aan Mansyur- Lelaki Terakhir Yang mengis Di Bumi, “kenganan punya
banyak cara untuk menjerat dan membunuh pemiliknya. Manusia tidak lebih dari
seekor binatang bodoh dan lemah dihadapan kenangan. Hanya ada dua pilihan.
Menjadi jinak atau mati terjerat dalam sejenak”. Jika kau memilih melawan
kenangan aku menghormati segala keputusanmu dan mungkin kau sedang menunggu
untuk mati dalam jeratan kenangan. Namun aku memiliki keputusan yang berbeda,
aku memilih menjadi jinak, bersahabat dengan kenangan dan menjadikannya bagian
dari diriku. Karena bagiku tidak ada kata lupa bagi kenangan dikarenakan waktu,
yang ada hanyalah berdamai dengan kenangan seiring dengan berlalunya waktu atau
kita berpura-pura lupa dengan kenangan. Dan aku berharap kau mengerti maksudku.
Aku
tahu kau tak menerima akhir dari kisah ini, kau terjerat dalam harapanmu yang
jelas-jelas kosong. Kau selalu berkata kepadaku bahwa kata kita adalah kata
yang tak mungkin dengan lima benteng yang sering kau keluhan padaku, namun kau
harus tau bahwa segala kehidupan di Bumi ini selalu punya kata kecuali dan kata
tetapi kata kak Aan. Mungkin kita kita tidak akan ada pada dunia yang nyata,
tapi kata kita bisa hadir di lembaran tulisan-tulisanmu hanya untuk
mengantarkan rindu yang berdera dan berderu dalam bingkai kenangan dan abadi
dalam tulisan. Ya mengabadikanmu dalam tulisan dan akan kau baca nantinya
sambil tersenyum di kursi goyangmu bersama secangkir kopi dan kaca mata tuamu.
Hanya itu, cukup itu dan akan sampai disitu.
Lalu
karena semua alasan ini aku mencarimu sesungguhnya. Tapi kau selalu senang
dalam persembunyianmu mempermainkanku diluar sana yang sedang menggedor-gedor
pintu-pintu persembunyianmu. Dan aku tahu kau juga sedang sekarat disana. Ingin
aku menolongmu segera namun mungkin kau punya cara lain untuk menolong dirimu
sendiri. Semoga kau tak pernah menyesal dengan keputusanmu, karena aku selalu
berharap untuk itu. Walaupun mungkin melihat orang lain menyesal karena
perbuatannya yang menyakiti adalah kabahagiaan yang sangat jarang ditemui,
namun aku tak pernah mengharapkan itu terjadi padamu.
Sampai
akhirnya aku memutuskan berhenti menggedor-gedor pintu persembunyianmu bukan
karena aku lelah, tapi aku menghargai segala yang kau putuskan, walau kadang
aku berfikir bahwa kau sendiri tak menghargai segala keputusanku. Bahkan
sekedar untuk mendengarkan alasan-alasanku. Semuanya kau ganti dengan kata
salah termasuk awal kebagiaan yang pernah kau rajut bersamaku kau ganti dengan
kata salah dan tidak baik. Aku hanya ingin mengenang katamu yang selalu
memarahiku ketika aku mengucapkan kata yang sama dan memutuskan untuk menjauh
lebih awal, hanya untuk mengenang. Lalu kupersilahkan kau hukum aku sebagai pelaku
kejahatan. Mungkin itu keputusanmu yang harus kuhormati.
Namun
kau harus tau, bahwa tidak ada cinta yang tidak adil. Banyak konsep yang telah
kita pelajari tentang adil, seperti tidak berat sebelah. Namun jika itu
keadilan maka akan ada tambahan kata “ke” yang berarti kata kerja atau upaya/berusaha
untuk adil. Tapi adil yang seperti apa?, dan defenisi yang seperti apa yang
paling cocok untuk itu?. Namun bagiku konsep itu diterapkan dalam cinta, tetap
saja cinta punya perhitugannya sendiri. Cinta memiliki angka-angka sendiri,
penilaian sendiri dan penjumlahanya tersendiri. Dan bagiku apa yang aku lakukan
hari ini adalah cinta yang adil dengan perhitungannya tersendiri. Namun mungkin
kau punya konsep lain yang akupun harus menghormatinya.
Aku
seperti anak kecil memang terutama dalam menyikapi kenangan, seperti katamu
bahwa “bukankah dewasa berarti siap melaskan dan merelakan” (dwitasari). Tetapi
jika aku ingin berterus terang pada diriku sendiri tidak ada manusia dewasa
sekalipun yang siap melepaskan. Mungkin dimulut mereka mengatakan siap tapi siapa
yang tau tentang kedalam rasa mereka tetang kesiapan itu. Kita semua tidak
pernah benar-benar dewasa, kita terus belajar menjadi dewasa sampai kata mati
yang universal itu menjadi kenyataan. Kita hanya anak kecil yang memegang
boneka kesayangan kita walaupun ketika Tuhan ingin mengambil boneka kecil itu
dan menggantinya dengan boneka besar kita tetap tak percaya dan terus ingin
menggenggam apa yang kita lihat dan miliki sekarang. Dan aku mengakui aku
memang anak kecil.
Mungkin
karena aku anak kecil maka aku selalu berharap kau selalu jujur dengan dirimu
sendiri. Katakanlah apa yang mampu kau katakan pada kenangan. Jika kau masih
bisa mengatakan kau mencintai kenangan maka katakanlah selagi kau bisa. Bahkan
ketika waktu begitu sempitnya memberimu ruang. Aku tahu bahwa waktu yang begitu
sempit akan menyakitimu, tetapi inilah kenyataan yang harus kau terima.
Pilihanmu cuma dua menjadi jinak atau memilih untuk melawan sambil menunggu
kematian akan jeratan kenangan. Akan ada masa ketika kau ingin mengatakan
kedalaman rasamu, waktu tak mengijinkan dan ruang telah berbalik arah dihadapan
yang lain. Kau harus tau bahwa waktu tetaplah pelari yang paling handal bagi
kenangan. Ia tak akan terulang meski kau meronta-ronta untuk mengejarnya. Namun
semuanya telah berlalu, lepas. Waktu telah melewati garis finish dan menuju garis finish
lainnya dan ruang telah berbalik arah di tempat yang lain.
Kenangan
dan akan menjadi Kenangan TITIK
Rabu, 29 Juli 2015
Kepergianku
Kepergianku
Kepergian memang selalu menjadi musuh bagi ku, dia memberikan jarah pada kita dan dengan hebatnya bersekutu dengan waktu,, maka biarkan aku menari dengan kerinduan dalam tarian kebisuanku.....
Kepergianku ternyata
menjadi tetesan peluh disudut matamu yang tak bisa ku hapus dengan kedua
tanganku yang renta. Maka maafkan aku dengan kepergianku, aku inign tetap
berada di sampingmu, tak melepaskan genggamanmu. Namun kau tahu, banyak hal
yang memaksaku untuk melangkah pergi membawaku pada suatu jarak yang membuatmu terpisah
begitu jauh dengan ku.
Maafkan aku dan
kepergianku,, aku karena keduanya menjadi bilah pisau yang menyayat setiap
lembaran kasihmu, bahkan tidak pula dirimu, bilah pisau itu ternyata bermata dua, yang setiap kali menyayatmu maka setiap kali itu pula ia menyayatku tanpa
rasa kasihan.
Memang jarak selalu
menjadi musuh bagi kita, dan waktu juga menjadi sekutunya. Mereka merasa senang
mempermainkan kita bersama kerinduan yang menggebu. Kerinduan, kata ini selalu
saja menyiksa batin ku ketika senja, ataupun ketika bulan mengadah menuju
langit yang menghitamkan wajahnya yang tak terbatas.
Kau tahu, di beberapa
senja aku ingin menjelma menjadi dewi langit untuk menembus jarak yang menarik
kita begitu kuatnya. Aku ingin bersamamu memelukmu agar kau tahu kerinduanku selalu
saja ingin berlari kearahmu.
Aku menyukai tarian
bersama dengan keriduan, menari bersama diamku agar aku tahu bagaiamana kerinduan
begitu menyiksa. Ini bukan tentang
memenjarakan rinduku dalam diam dan keresahan. Ini tentang cinta dan makna
kerinduanku dalam tarian sunyi merindukanmu. Acchh yang tersulit memang adalah
merindukan,, karena jarak dan waktu begitu megahnya menjadi benteng untuk
menemukan mu,,,
Kau tahu, setiap detik
kerinduanku, selalu saja kusandingkan dengan amarah,, bukan karena hatiku
menyimpan luka-luka dan kurawat di jiwa kecilku, tapi jiwaku sedang bosan
dengan kerinduan yang tak kunjung bisa ku lepaskan dan kulewatkan,, mereka
dengan kuatnya mengalahkan ku begitu saja pada peperangan ku bersama dengan
diriku sendiri yang merindukanmu.
Maafkan aku,,, jika pada
beberapa aku aku mencoba untuk membunuh diriku karena pisau 0 yang sering aku
bicarakan denganmu di kota pertemuan kita. Pisau 0 yang begitu tidak masuk akal
dalam sebuah hubungan. Maafkan aku kekasihku,, Maafkan ke khilafanku dan logika
ku yang begitu dangkal dalam menilai. Aku ingin bertemu dengan mu setelah
kepergianku,,, Mungkin akan ada kepergian yang lain,, tapi aku harap kepergian
itu tidak pula menusukmu begitu hebatnya di kepergianku ini.
Maafkan aku bersama kepergianku,,, maafkan
diriku yang tak mampu mengalahkan jarak yang sedang bersekutu dengan waktu untuk
memisahkan kita. Maafkan kediamanku dan tarian riduku di dalam senyap kebisuan,
hingga kau mengira bahwa kau sedang merindukan bayang-bayang tanpa balasan,,
kau harus tahu bahwa disetiap langit seusai senja aku selalu mengirimkan pesan
pada rembulan yang tak kunjung purnama. Tentang aku dan tentang kerinduanku,,
Apakah mereka menyampaikannya untuk mu???,,
Mereka memang bisu,,
itulah kebodohanku,, aku menyampaiakan pesan yang tak sanggup bicara pada
manusia sepertimu. Biarlah, semoga ketika kau menatap rembulan seusai senja kau
tetap bisa menerima pesanku,, dengan hati yang bertautan, dengan sepasang cinta
yang saling sahut menyahut dikala senja.
Regard
Perempuan Hujan
Rabu, 13 Agustus 2014
coretaannn
Malang, 24 mei 2014
Kafe Nyit- Nyot
Saat
Kita Masih Menjadi Kikir dalam Ketidaksadaran yang Tidak Kita Sadari
Saat-saat
libur seperti ini, dan setelah badai tugas yang begitu kencang melanda
waktu-waktuku, mungkin dibeberapa orang atau dibeberapa waktu kamu akan
merasakan kebosanan luar biasa, tidak tahu mau melakukan apa, dan tidak tahu
mau memulai apapun. Setelah hampir seminggu seperti ini maka mungkin kau patut
mencoba mencari suasana yang nyaman yang bisa menolongmu. Bagiku salah satu
alternatif yang bisa kulakukan adalah menulis. Seperti aku yang saat ini mulai
menulis lagi.
Bahkan
saat memulai menulispun, aku tak tahu mau memulai dari mana, mungkin cerita
kepenatan tentang masa-masa tugas menugas dan hari libur yang sekarang pun tak
tahu ingin melakukan apa.. Traveling?? Mungkin kedengarannya asyik, tapi jika
semua teman-teman menikmati liburan mereka di kota masing-masing, dan aku yang
tetap dikota ini yang masih belum saatnya pulang,, aku harus melakukan apa?
Maka
menulis adalah cara yang menyenangkan yang dapat kamu pilih untuk mengisi
liburanmu.. 4 hari merasa bosan dan kebingungan, bagi aku yang memiliki
kepribadian yang sedikit introvert, menyenderi dan merenungi apapun yang telah
kulalui dalam kehidupanku dan menuangkannya dalam tuisan adalaha hal yang
paling aku senangi. Aku tersadar bahwa terkadang sebagai manusia kita
membutuhkan sebuah kesibukan, bagi mahasiswa sendiri kita membutuhkan tugas
yang dengannya kita bisa mengisi waktu dan menjalani hari-hari kita dengan
sebuah kata yang bernama sibuk. Walaupun terkadang dengan tugas yang membuat
kita harus memasukki gerbang kesibukan, tidak jarang kita menyertainya dengan
keluh kesah yang tiada henti, bahkan pernah kutemui istilah disebuah media
sosial mengatakan “tuhan tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat
dibandingkan batas kemampuan hambanya, tapi tidak dengan dosen yang selalu
memberikan tugas melampaui batas kemampuan mahasiswanya”.. Kedengarannya lucu,
tapi ini bisa berarti sebagai bentuk protes terhadap rasa malas dan kejenuhan terhadap
tugas mulai dari tugas mata kuliah sampai pada tugas terbesar diseluruh jagad
raya (mungkin sedikit lebay) yaitu skripsi.
Tanpa
kita sadari, mengaku atau mencoba menginkari,,, dibeberapa bagian dari kita
sering merasakan kebosanan untuk
mengerjakan tugas, walaupun kita tahu bahwa mau tidak mau tugas itu
harus kita kerjakan, karena menyangkut tentang masa depan IPK kita. Tapi ketika
kita mendapatkan waktu libur panjang kita juga terkadang mengeluh karena bosan
tidak melakukan apa-apa. Sungguh Manusia memang tak pernah bersyukur dan
menyukai kata “mengeluh”. Aku pun seperti itu, aku menuliskan ini tidak ingin
mencela orang lain, tapi ini media untuk menegur diriku sendiri yang tidak
bersyukur. Menulis adalah salah satu media untuk menegur diri kita sendiri.
Well,
kita kembali ke topik sebelumnya, bagi beberapa orang bisa saja mereka
memutuskan untuk mengacuhkan nilai IPK mereka. Tapi aku yakin bahwa jauh lebih
banyak mahasiswa yang tidak mengacuhkan IPK mereka. Selain karena ini menyangkut
reputasi didepan teman-teman, pacar dan masa depan kita sendiri, Namun juga
menyangkut seberapa besar tanggung jawab kita terhadap amanah yang diberikan
orang tua untuk kita.
Kita
tidak bisa mempungkiri bahwa semua anak pasti menyayangi orang tuanya, jika pun
terdapat kata anak durhaka, maka saya pun yakin bahwa didalam lubuk hati mereka
yang paling dalam mereka pun mencintai kedua orang tuanya, walapun tak dapat
dikatakan dan diperlihatkan melalui perilaku. Mungkin karena suatu alasan yang
lain dan saya pun tak bisa menjelaskan mengapa. Semoga diantara kita tidak ada
yang mengalaminya. Intinya adalah semua anak pasti menginginkan untuk menjadi
kebanggaan dari orang tua masing-masing dan dengan standar pribadi yang
berbeda-beda dimasing-masing individu. Jika kamu masih merasa bahwa
membahagiakan orang tua adalah penting, maka beryukurlah bahwa Tuhan masih memberikan
cahaya di hati kita. Cahaya yang dengannya kita masih mencintai orang tua kita
dan cahaya yang dengannya masih melembutkan hati kita untuk menyayangi orang
tua kita dan berniat untuk membahagiakan mereka.
Mungkin
ini terlihat kecil, beryukur karena masih bisa mencintai orang tua kita, karena
dengan apa yang telah mereka lakukan untuk kita, ibu yang mengandung selama 9
bulan yang dengannya ibu kita tak bisa tidur dengan nyenyak karena kita yang
telah mengambil ruang di dalam rahimnya yang kecil dan dengannya kita menyerap
75% sari-sari makanan yang ibu kita makan, demi keberlangsungan hidup kita
didalam rahimnya. Bahkan kita mengambil banyak kalsium dalam tubuhnya jika
dengan apa yang ibu kita makan masih belum mencukupi kebutuhan kita. Bahkan
dengan tidak cukup kuatnya ibu kita melahirkan, dia tetap berupaya melahirkan
kita. Saya pernah membaca sebuah artikel bahwa manusia bisa menanggung kesakitan
sampai dengan 45 del tapi selama bersalin ibu kita harus merasakan sakit hingga
57 del, ini telah melampaui batas
kesakitan yang bisa ditanggung manusia. Jika digambarkan rasa sakit 57del itu
sama dengan rasa sakit 20 tulang kita patah secara bersamaan. Maka sangatlah
wajar jika Tuhan memberikan pahala bagi ibu bersalin setara dengan 70 tahun
sholat dan puasa serta setiap satu urat yang putus dalam persalinan setara
dengan ibadah haji. Coba bayangkan jika dalam persalinan kita, ibu kita
mengalami hampir 2000 urat yang putus. Makanya Tuhan mengatakan bahwa menjadi
perempuan itu sangat gampang untuk masuk surga.
Sungguh
luar biasa yang bernama “ibu” yang melahirkan kita. Bahkan saat kita telah
lahir, kita masih menyerap makanan dari Ibu melalui proses menyusui, kita
membuat ibu begadang siang malam karena popok kita yang basah dan membuat kita
menangis ketika ibu kita ingin menikmati waktu istirahatnya. Lalu, ketika mulai mengenal lingkungan baru
yang bernama sekolah, kita masih meminta diantar, dan membuat ibu kita menunggu
di depan sekolah karena takut bertemu orang baru.
Pernahkah
kita melihat bagaimana kita melalui masa-masa remaja kita, saat kita mulai
beranjak dewasa dan jatuh cinta. Mungkin sebagian orang tua kita akan melarang
kata pacaran, dan akhirnya karena terlanjur jatuh cinta, kita terkadang
membohongi ibu dan “backstreet”. Kita
lebih senang bersama orang lain dibandingkan dengan ibu kita, terkadang kita
merasa over protektif ketika ibu bertanya ini itu, adahal dilubuk hati yang
paling dalam ibu kita merasakan cemas yang luar biasa terhadap diri kita yang
telah beranjak dewasa. Ibu yang mengerti bagaimana gejolak para remaja yang
ingin mencoba sesuatu yang baru, mencoba ini itu, tanpa pertimbangan tentang
masa depan. Remaja yang memikirkan kesenangan saat ini dan have fun.
Aku
bersyukur memiliki ibu yang bisa kuajak untuk berbicara dari hati kehati dan
menjadi teman curhat terbaikku, mungkin lebih pantas kusebut “the best counselor that i have”. Suatu
waktu aku bertanya pada ibu mengapa terkadang terlalu cerewet tentang urusan percintaan
para remaja, dengan rona matanya yang begitu menenangkan dalam bahasa dan aksen
makassar dia berkata “ tidak ada nak
kerugian yang paling besar dari orang tua kalo anaknya tidak bisa menjaga
dirinya. Kita bilang nak hanya dengan jadi menteri atau jadi dokter bahkan
presiden orang tua bangga nak??,, Bukan itu sumber kesuksesan orang tua, sumber
kesuksesannya orang tua itu nak kalo kamu bisa menikah dengan cara yang
baik-baik dan dengan pria yang baik baik begitupun dengan laki-laki. Bahkan
jika kamu telah menjadi orang besar dan bergelimangan harta, tidak sedikitpun
ibu dan tetta (bapak) meminta, bahkan jika setelah menikah kamu mau
meninggalkan ibu dan tidak mengingat ibu dan tetta (bapak) kami ikhlas, yang
penting kamu menikah dengan cara baik-baik dan mendapatkan suami yang baik”.
Mendengar
perkataan ibu, sejujurnya aku tidak menyangka bahwa begitu tuluskah orang tua
menyayangi kita, sampai cita-cita mereka hanya sekecil itu, bahkan itupun
adalah kebaikan kita sendiri...??. Mendengar itu suatu waktu aku menyadari
bahwa mengapa kemudian ibu kita marah ketika kita pulang telat dan tidak
mengabari. Ternyata kemarahan mereka adalah sebuah ungkapan kecemasan mereka
yang tidak bisa dikatakan secara gamblang kepada kita. Mungkin seperti saat
kita mencemaskan pacar kita yang tidak pernah mengabari, kita cemas jika
terjadi sesuatu dengan pacar kita, sedangkan pacar kita tidak peduli sedikitpun
dengan kecemasan yang kita alami. Kalaupun kita mengatakan rasa cemas itu, pacar
kita akan mengatakan “gak usah terlalu lebay deh”. Makanya kadang dilupkan
dalam sebuah kemarahan. Ah tidak aku yakin kecemasan orang tua berpuluh kali
lipat dari itu, namun bisa diilustrasikan seperti itu. Maka dengan seseorang
yang bernama “ibu” dalam hidup kita, pernahkah kita mensyukuri keberadaannya
disisi kita, mungkin dengan berterima kasih dari lubuk hati terdalam kepada Tuhan
karena masih memberikan Ibu kehidupan untuk bersama kita, untuk menatap matanya
yang teduh lekat-lekat dan memperhatikan bahwa kulitnya kian hari semakin
keriput dan tidak lagi kencang. Tapi dari sudut-sudut mata yang keriput, dan
kulit yang tidak lagi kencang tersimpan kecantikan yang luar biasa di hati
mereka, tentang cinta dan kasih sayang kepada anaknya yang dipancarkan dari
yang maha Cinta dan Maha pemberi kasih sayang.
Sudahkan
kita berterima kasih kepada ibu dengan penuh cinta akan apa yang telah mereka
lakukan, ya tentunya ita tidak akan bisa membalas jasa-jasanya, tapi pernahkan
kita berterima kasih sebagai tanda penghargaan kita terhadap yang mereka
lakukan. Untuk disetiap cinta, disetiap kasih, disetiap tetesan darah, disetiap
kesakitan, disetiap waktu, disetiap belaian, disetiap pelukan, disetiap suapan
makanan, bahkan disetiap makanan yang rela tidak Ibu kita makan demi kita,
disetiap doa yang selalu Ibu panjatkan kepada yang maha kuasa akan keselamatan
dan kesuksesan kita. Bahkan apa yang aku tuliskan ini belum mewakili hal-hal
yang telah ibu kita lakukan untuk kita. Maka berterima kasihlah, mungkin sulit
mengucapkan terima kasih pada ibu, karena jarang kita lakukan bahkan mungkin
tidak pernah kita lakukan, sehingga membuat kita canggung untuk mengatakannya,
tapi kita tidak tahu kapan ibu kita masih memiliki waktu untuk tetap bersama
kita. Mengucapkan terima kasih adalah hal yang paling kecil yang bisa kita
lakukan pada orang lain, jika seseorang sulit mengucapkan terima kasih atau
jarang mengucapkannya maka orang itu termasuk orang yang paling kikir, itu kata
dosenku pada sebuah kuliah. Nah, jika terima kasih saja sulit diucapkan untuk
ibu kita sendiri maka bagaimana mungkin kita begitu kikir kepada ibu sendiri.
Pada perempuan yang begitu teduh yang bahwkan ketika kau meminta nyawanya dia
akan memberikanmu. Ucapkanlah terima kasih kepadanya. Katakan kau mencintainya
dalam sebuah pelukan tulus yang mungkin tak pernah kau berikan sebeumnya atau
sebuah surat cinta dalam bentuk terimakasihmu kepadanya “Ibu”.
Selanjutnya, masih ada lagi seorang laki-laki
perkasa yang sering kita lupakan disisi kita, yang terkadang kita tidak
mensyukurinya, dia bernama “Ayah”. Bagi
kita di Indonesia, mengungkapkan perasaan keada orang lain adalah hal yang
sulit terutama bagi seorang laki-laki, budaya kita yang sulit mengungkapkan
perasaan ini yang berbeda dengan orang Eropa. Ayah menjadi sosok yang mungkin
sulit untuk kita ajak bercerita dari hati kehati, dia yang lebih banyak diam
menyimpan perasaan cintanya, tapi sesungguhnya ketika dia berangkat kerja,
menguras keringat dan otot-ototnya untuk mencari penghidupan yang layak untuk
kita, agar kita bisa mengenyam pendidikan sampai sekarnag ini. Dia yang hanya
menelan ludah ketika menginginkan makanan kesukaannya demi menyisihkan biaya
pendidikan untuk kita, dia yang sangat letih ketika pulang dirumah, yang
menikmati kebahagiaannya sendiri melihat kita bertumbuh besar, menjadi remaja
dan akhirnya dewasa, dan diam dalam kecemasannya akankah kita mampu menjaga
harga diri kita sendiri. Dia yang dalam diammnya menyembunyikan cinta dan kasih
sayangnya namun tetap terpancar dalam matanya yang terkadang tidak kita syukuri
dan tidak pernah menguncapkan terima kasih kepada mereka.
Kita yang
tidak pernah berterima kasih pada tuhan karema masih memberinya hidup, untuk
tetap disisi kita, melihat perkembangan kita dari waktu kewaktu, mengajarkan
kita tentang rasa percaya diri dan kekuatan menjalani segala tantangan
kehidupan. Sosok ayah dalam kelaurga yang berperan sebagai tiang dan kekuatan,
seperti itulah Ayah dan kemampuan kita menjalani hidup, tegar dalam kehidupan
adalah hasil ddari bagiamana ayah mendidik kita. Maka Pernahkah kita berterima
kasih kepadanya, dalam sebuah kata terima kasih pada apa cintanya, pada setiap
keringat, pada setiap kekuatan, pada setiap senyuman pada setiap doa dan
semuanya yang tidak bisa digambarkan. Pernahkan terima kasih itu tercap dalam
pelukan tulus kita, ataukah selama ini kita juga telah bersikap kikir
dengannya.
Kita
tidak bisa mempungkiri bahwa kita pernah mengalami kekecewaan terhadap keluarga
kita, mungkin perilaku ibu, atau ayah, kita merasa tidak disayangi, meresa
tertolak oleh mereka terutama diwaktu kecil yang mungkin sangat membekas dalam
kehidupan kita sampai sekarang. Tapi sesungguhnya tidak ada niat untuk membuat
kita merasa seperti itu, maafkan masa lalu, maafkan mereka, karena pada
dasarnya tidak satupun manusia sempurna, dan orang tua kita pun manusia yang
tak sempurna. Maafkan ketidaksempurnaan cara mereka mengungkapkan rasa cinta
mereka. “No one family perfect” ,
tidak ada sekolah tentang bagaimana mengunkapkan kasih sayang pada naka, tidak
ada sekolah tentang cara mendidik anak, mereka mendidik anak-anak mereka
berdasarkan apa yang mereka rasakan dari orang tua mereka juga. Maafkan masa
lalumu,, Maafkan kekurangan orang tuamu, dan Mulailah belajar menjadi seorang
yang dermawan bagi orang tua kita sendiri, mengucapkan terima kasih disetiap
waktu kebersamaan yang masih Tuhan berikan kepada kita.
Apakah
kemudian dengan mengucapkan terima kasih kepada mereka adalah cukup,,,?? Aku
yakin, bagi orang tua yang sangat mecintai kita kata terima kasih, sudah lebih
dari cukup, tapi apakah tanggung jawab kita sebagai anak hanya sampai
disitu..?? Mungkin kita belum bisa memberikan mobil mewah bagi mereka, makan
direstoran termahal yang pernah ada atau bahkan mengajak mereka liburan diluar
negeri. Tapi belajar dengan giat, terus memperbaiki diri dan akhlak kita serta
menjaga diri adalah kewajiban kita sebagai seorang anak. Nah,,,, Bagaimana
mungkin dengan apa yang orang tua kita lakukan, kita masih sibuk mengeluh pada
setiap tugas, dan maslaah hidup yang kian datang menyapa. Bagaimana mungkin
kita masih merasa lemah sedangkan ayah telah mengajarkan kita tentang kekuatan
menjalani hidup, bagaimana mungkin kita tidak percaya diri sedangkan ayah telah
mengajarkan kita percaya diri yang luar biasa melalui bermain bersama saat kita
masih kecil yang dengannya kita tertawa lepas tanpa rasa cemas dan takut.
Lalu
bagaimana mungkin kita masih bersikap egois, tidak peduli dengan lingkungan
kita, tidak menyayangi sesama, sedangkan ibu telah mengajarkan kita tentang
kasih yang begitu tulus kepada kita, bagaimana mungkin kita masih
memikirkan kepentingan pribadi sedangkan
ibu telah mengajarkan kita tentang bagaimana meberi itu, bagaimana mencintai
dan mengasihi???.. Apakah ini sikap kita yang mungkin kurang baik karena ibu
kita?? Ataukah karena kita yang telah mengacuhkan pelajaran-pelajaran indah
yang kita dapatkan dari orang tua kita. Terus, buat apa kita mengeluh dan
membatasi diri, sedangkan kita adalah mahluk ciptaan tuhan yang pailing sempurna
dan telah tuhan janjikan. Maka dengan alasan apalagi kita mengeluh ini dan
itu,,,???? Maka dengan alasan apalagi kita masih tidak peduli dengan orang
lain, masih egois dan mementingkan diri sendiri???,,,
Semoga
tulisan ini adalah cara untuk menegur diriku sendiri dan memberikan manfaat
untuk orang lain tentang perenunganku yang mungkin dari sudut pandang yang
masih sempit. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kasih sayang pada Ibu dan
Ayah kita, memberikan mereka surga dan memasukkannya tanpa hizab.. Semoga Kita
biasa menjadi Anak yang sholeh dan sholehah dan menjadi Penyelamat bagi orang
tua kita di Akhirat kelak ,, Amin Ya rabbal Alalmin.
Salam
Cinta dari Perempuan Hujan
Langganan:
Postingan (Atom)
